Kunci Keberhasilan Om Bob Sadino

Berikut ini adalah kunci keberhasilan Bob Sadino. Bob Sadino atau biasa dipanggil akrab Om Bob mengilustrasikan 4 kuadran bagi seorang entrepreneur yang disebutnya sebagai RBS (Roda Bob Sadino). Salah satunya yaitu “Kuadran Bisa” atau acapkali disebut dengan “Ilmu Jalanan”. Jurus Ilmu Jalanan ini secara tak sadar sudah dipakai semenjak beliau Sekolah Menengah Umum. Ilmu tersebut yakni Take Action (Segera Kerjakan/Lakukan) dahulu, tak ada planing, tak memikirkan untung rugi, tak memikirkan akan keluar uang berapa banyak, tak peduli kerja keras hingga jam berapa, yang terpenting adalah Take Action. Dan alhasil di luar dugaan sangat luar biasa.

Pada umumnya yang sering terjadi adalah ketika sesudah usaha berjalan baru melakukan evaluasi, membuat administrasi, membuat organisasi, membuat laporan keuangan, membentuk rapat-rapat, dan lain sebagainya. Mungkin sebetulnya dengan langsung Take Action tanpa berpikir-pikir dahulu merupakan suatu hal yang hanya membuang-buang waktu. Betul juga, karena memang tidak ada rancangan yang pasti. Akan tetapi apabila tidak segera dimulai umumnya akan seketika bubar dan tidak jadi memulai usaha.

Maka dari itu setelah terbiasa menggunakan Ilmu Jalanan sepatutnya lebih ditingkatkan dan dikembangkan lagi ilmunya. Yaitu sudah selayaknya membuat suatu sistem, dimana sistem tersebut dirancang untuk bisnis selanjutnya. Lalu bagaimana sistem tersebut akan terancang ?, Sistem akan terancang dengan sendirinya setelah bisnis pertama, kedua, ketiga dan keempat hingga kedelapan gagal, barulah sistem terbentuk. Memang membutuhkan waktu, tenaga serta pemikiran yang tidak sebentar, semua membutuhkan proses.

Namun Om Bob juga membahas pentingnya Teori dikala usaha telah berjalan. Ini akan diulas dalam Kuadran RBS. Beginilah kira-kira ilustrasi Roda Bob Sadino yang dibagi menjadi 4 kuadran.

 

om bob

 

1)  Kuadran Tau

Kuadran Tau merupakan pelaksanaan belajar di sekolah pada umumnya. Kerapkali disebut dengan Kuadran Kampus atau Sekolah. Di kampus inilah orang belajar bermacam-macam teori sampai dengan ujian, skripsi dan lulus lalu memperoleh gelar. Tujuan utama pembelajaran di Kuadran Tau ialah bagaimana seseorang mendapatkan ilmu pengetahuan, teori dan informasi-informasi sebanyaknya. Sehingga semakin banyak informasi dan teori yang diperoleh maka semakin pintarlah sebutannya. Kelemahan orang yg berada di Kuadran Tau ialah lemah di lapangan atau pada saat praktek, karena terlalu banyak menganalisis, ketakutan akan rugi dan lain sebagainya.

Kerapkali apabila teori diterapkan di masyarakat, efektifitasnya hanya memperoleh 0 %, mengapa bisa demikian ?, karena teori umumnya selalu tertinggal oleh dinamika atau perubahan yang terjadi di masyarakat, dan juga karena teori umumnya dibentuk menurut riset atas fakta dan informasi yang telah berlalu cukup lama.

Om Bob mengilustrasikan orang yang berada di Kuadran Tau ini ibarat orang yang sedang belajar menembak, Orang-orang ini dibekali bermacam-macam ilmu tentang tipe senapan, teknik  menembak dan cara menembak dengan akurat. Tetapi mereka justru belum pernah sama sekali mengendalikan senapan dan pelurunya. Oleh karena itu orang yang berkompeten sekali pun di Kuadran Tau bisa menjadi tidak kompeten lagi, manakala ia harus diterjunkan ke tengah-tengah masyarakat.

 

2)  Kuadaran Bisa

Kuadran Bisa ini mengilustrasikan orang-orang yang tidak bersekolah, tidak belajar melaksanakan dan menjalankan suatu profesi di beragam bidang. Mereka umumnya seketika melangkah tanpa berlandaskan pada teori, karena mereka memang tidak peduli dengan teorinya. Tujuan utama mereka adalah praktek, menjalankan tindakan, action, dan sepenuhnya belajar dari pelaksanaan di lapangan tersebut.

kata mutiara om bob

Orang di Kuadran Bisa dapat saja menjalankan profesinya dengan benar namun juga bisa menjalankan profesinya dengan salah. Tetapi kedua pengalaman yang seperti demikianlah yang menjadi sumber pembelajarannya.

Oleh sebab itu orang yang berada di Kuadran Bisa, lama kelamaan akan menjadi terbiasa dalam menjalankan profesinya dengan benar, mengapa ? karena dilakukan secara terus menerus, praktek terus menerus, belajar dari proses. Ketika ada kesalahan diperbaiki dan dicoba lagi.

Ilustrasi dari Kuadran Bisa yaitu orang yang seketika mengendalikan senapan mengisi dengan peluru dan seketika pula menembak ke target yang dituju. Disaat pertama kali belajar mungkin targetnya meleset sampai dengan puluhan kali, akan tetapi seiring terus dicoba pada akhirnya bisa tepat pada targetnya.

 

3)  Kuadran Terampil

Orang-orang di Kuadran Terampil umumnya telah melalui Kuadaran Tau dan Kuadran Bisa. Dibutuhkan waktu antara 20 sampai dengan 30 tahun dari Kuadaran Bisa untuk naik ke Kuadran Terampil. Kuadran Terampil umumnya merupakan pengaruh dari dialektika (kumunikasi dua arah) antara Kuadaran Tau dan Kuadran Bisa. Menurut Om Bob sepatutnya orang-orang yang berada di Kuadran Tau harus terus menerus menguji teorinya di Kuadran Bisa.

Dan sebaliknya orang-orang yang berada di Kuadran Bisa berkeinginan bergerak dan mengalamai proses di Kuadran Tau. Dengan demikian prakteknya bisa menjadi lebih efektif dan tepat sasaran karena dikuatkan oleh teori dan metode-metodenya. Adapun pengaruh dari hasil yg saling menguatkan ini ialah meningkatnya kemampuan dan kecakapan seseorang. Sehingga masyarakat akan menyebutnya sebagai orang yang terampil atau kompeten di bidangnya.

Om Bob mengelompokkan orang yang ada di Kuadran Terampil ini sebagai orang yang respons-able dan accountable. Respons-able artinya mempunyai kecakapan menanggapi segala permasalahan dengan tepat. Sedangkan accountable artinya mempunyai kecakapan dalam menyelesaikan permasalahan secara bertanggung jawab.

 

4)  Kuadran Ahli

Orang-orang yang berada di Kuadran Ahli ini ialah mereka yang sudah bisa meningkatkan kepiawaiannya, responsif, bertanggung jawab dan juga sudah mampu memberikan manfaat bagi banyak orang, serta diakui kompetensinya oleh masyarakat luas. Penghuni di Kuadran Terampil memiliki efektivitas teori ke praktek hingga mencapai 90 %. Akan tetapi orang yg berada di Kuadran Ahli bisa melampaui Kuadran Terampil hingga mencapai angka 99 %.

Ilustrasinya yaitu seperti penembak yang benar-benar hebat dalam menembak. Setelah piawai menembak, mereka belajar lagi menerapkan metode-metode tertentu atau trik tertentu untuk meningkatkan kecakapannya. Hasilnya bahkan dengan mata tertutuppun mereka bisa menembak.

Pengertian Terampil dan Ahli sebetulnya tipis sekali bedanya, perbedaannya bahwa orang di Kuadran Ahli telah diakui oleh masyarakat bisa menjadi figur baik, penyuluh bagi orang-orang yang berada di Kuadran Tau atau Kuadran Bisa. Walaupun benar-benar ahli dalam teori dan praktek bukan berarti orang yang berada di Kuadran Ahli ini sanggup menjawab seluruh pertanyaan. Katakanlah dari 1.000 pertanyaan yang diajukan bisa dijawab hingga 99,9 %, maka bukan tak mungkin 0,1 % pertanyaan yang tidak bisa dijawab tersebut bisa ditemukan jawabanya di Kuadran Tau. Oleh Sebab itu orang-orang di Kuadran Ahli akan berputar-putar lagi belajar di Kuadran Tau. bandulDari perputaran kuadran tersebut Om Bob sangat menitik beratkan pada dialektika antara Kuadran Tau dan Kuadran Bisa. Om Bob mengilustrasikan proses itu sebagai bandul yang bergerak ke kuadran pertama dan kedua secara terus menerus.

Jadi artinya orang di Kuadran Tau mesti terus menguji teorinya di Kuadran Bisa, karena di Kuadran Bisa itulah segala hambatan, tantangan dan peluang yang riil. Sebaliknya orang di Kuadran Bisa mesti terus menerus menambah ilmunya di Kuadran Tau agar prakteknya bisa lebih efektif. Kuadran Terampil dan Ahli merupakan hasil dari proses dialektika Kuadran Tau dan Bisa. Yang sering terjadi pada umumnya orang di Kuadran Tau tidak berkeinginan menyeberang ke Kuadran Bisa. Menurut pandangan Om Bob menjelaskan bahwa akar dari 1 juta sarjana menganggur itu karena Kuadran Tau tidak mau menyeberang ke Kuadran Bisa.

Akar permasalahan dari kemiskinan di Indonesia salah satunya disebabkan oleh mandulnya para sarjana yang tidak berkompeten. Mereka gagal mewujudkan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri, terutama bagi orang lain. Sementara orang yang di Kuadran Tau menerobos ke Kuadran Terampil atau Kuadran Ahli sehingga menghasilkan ahli-ahli yang tidak berkompeten, penyuluhan dan pengarahan mereka jadi menyesatkan.

 

sumber foto : google image

 

Sekian dulu artikel singkat kunci keberhasilan Om Bob Sadino. Kembali lagi kepada teman-teman ingin start dari Kuadran Tau atau Kuadran Bisa, silahkan saja bebas…

 😁😁😁

(Visited 287 times, 1 visits today)

Silahkan Komentarnya Bebas dan Sopan..

          daftar free member